Langsung ke konten utama

[ ESAI ] Sahabat Semu Dalam Cerpen “Adila”, dan Keterkekangannya yang Terefleksi Dalam “Numb” Milik Linkin Park



Neill, Ursula, dan Stephen bersama-sama mengangkat gelas itu tinggi-tinggi. Seperti dihipnotis, Dila menggabungkan gelasnya dengan ketiga gelas lainnya. 

“Untuk kemerdekaan kita ….”

“Untuk kebebasan kita ….”

“Untuk Adila!”

Mereka meminumnya dengan penuh semangat. Di halaman rumah Adila mobil-mobil polisi dan ambulans berserakan. 

    Cuplikan cerpen “Adila” karya Leila S. Chudori, Juni 1989.

            “Adila”, begitu Leila S. Chudori (selanjutnya akan saya sebut sebagai Leila saja) memberikan judul yang sama dengan nama tokoh utama dalam cerpennya yang ia tulis pada Juni 1989 ini. Cerpen “Adila” sendiri merupakan salah satu cerpen yang berada dalam buku kumpulan cerpen “Malam Terakhir” yang juga ditulis oleh Leila dan terbit pertama kali pada tahun 1989 dan kembali diterbitkan sebagai cetakan pertama pada November 2009, hingga cetakan keempatnya yang baru saja rilis pada Januari 2017 kemarin. Terlepas dari sepak terjang Leila sebagai penulis cerpen kenamaan Indonesia, saya ingin sedikit mengulas salah satu cerpennya yang sudah saya kutip  dan menjadi pembuka dalam esai ini.
            Adalah Adila, atau yang biasa akrab disapa Dila dalam ceritanya yang menjadi tokoh utama dengan kepribadian menarik. Adila digambarkan sebagai remaja berumur empatbelas tahun yang gemar membaca dan menghindari Ibunya. Agak-agaknya dalam cerpen ini Leila menjadikan Adila sebagai buah cinta dari dua manusia yang lebih banyak menghabiskan hidup di belakang meja kantor daripada menyisihkan sedikit waktunya untuk memahami Adila. Sementara sifat kontras justru datang dari Ibundanya yang malah menjadi serupa ibu tiri yang gemar mengomel, tidak mengerti mengapa putrinya lebih suka menghabiskan hari dengan satu buku yang sama dibanding bermain diluar seperti kebanyakan remaja seusianya.
            Ada beberapa hal yang menarik dalam cerpen ini, yang pertama dalam alur ceritanya, entah mengapa Leila begitu intens menjelaskan keadaan dimana Adila sedang melakukan kontak dengan botol baygon. Bahkan paragraf pembuka cerpen ini pun menjelaskan situasi Adila dan botol baygonnya. Hal ini tentu saja menimbulkan tanda tanya sekaligus praduga kuat saya sebagai pembaca, karena situasi dimana Adila melakukan kontak dengan botol baygon yang diulang berkali-kali membuat saya berpikir tentang akhir cerita yang tragis—meskipun benar saja, namun Leila selalu dapat mengemas setiap ceritanya dengan apik dan begitu menarik.
            Hal yang menarik yang selanjutnya adalah ketika saya sampai pada bagian buku favorit Adila yang telah dibacanya tidak kurang dari enambelas kali. Adila akan selalu menghindari kritik dan omelan Ibunya yang bagai rentetan petasan pengantin sunat, ia akan menyelinap ke dalam kamarnya dan duduk diatas toilet sambil membaca The Rainbow karya D.H. Lawrence. Leila membuat toilet menjadi tempat yang sakral untuk Adila, tempat dimana Adila berani menjadi dirinya sendiri, dan merasa bebas ketika ia berkunjung ke rumahnya (baca: The Rainbow). Tiga penggalan kalimat yang menggugah perihal The Rainbow yang dibaca oleh Adila pada cerpen ini adalah, “Ini memang bukan novel yang cocok dibaca oleh anak seusianya, tetapi Adila adalah seorang anak yang tidak bisa dibatasi oleh konvensi. Ia bisa melakukan apa saja menembus garis-garis ruang dan waktu. Ia hidup tanpa pagar.
            Penggalan kalimat tersebut, menurut saya, menggambarkan betapa luasnya imajinasi seorang Adila, minatnya yang besar terhadap The Rainbow dan buku-buku lain juga membuat karakternya semakin kuat, apalagi ketika saya sampai pada bagian dimana tokoh-tokoh dalam buku yang Adila baca menjadi nyata dihadapannya. Ada Ursula Brangwen, seorang gadis yang keluar dari The Rainbow, A.S Neill dengan segala teorinya tentang anak-anak dalam Summerhill[1], juga seorang Stephen Dedalus yang beranjak dari novel A Potrait of the Artist as a Young Man. Ketiganya menjadi sosok yang nyata dalam kehidupan Adila, mereka kerap kali menghembuskan pikiran-pikiran menentang dan memenuhi hasrat keingintahuan Adila dan setumpuk rasa penasarannya, mereka menjadi teman Adila yang tak kasat mata.
            Dalam bagian ini saya merasa Adila sudah sangat tertekan dengan kehidupannya sendiri sehingga ia terpaksa menghadirkan tokoh-tokoh imajinatif yang mampu memenuhi kebutuhan emosinya, dengan kata lain, Adila berusaha meredam apa yang dirasakannya melalui tokoh-tokoh rekaannya yang meskipun pada akhirnya dirinya sendiri tidak mampu membedakan antara realita dan khayalan. Klimaksnya, ada pada saat Adila berusaha memenuhi rasa penasarannya tentang mengapa dadanya tidak sesubur dada milik Ibunya, ketiga teman imajinatifnya berkumpul untuk merayakan keberekspresian Adila dan mereka memutuskan untuk menenggak cairan yang sejak lama Adila idam-idamkan; baygon.
            Cerita ini tidak berlanjut dengan Adila yang akhirnya dibawa ke tempat rehabilitasi karena ia ketahuan gila, atau satu keajaiban datang sehingga ketiga sahabat semunya itu menjelma sebagai manusia dalam kehidupan nyata, Leila membuat kisah Adila dan ketiga sahabat berbeda generasi itu berakhir bersama cerita pendeknya. Saya menilai bahwa Leila adalah salah satu penulis yang berani meramu setiap kisahnya dengan unsur-unsur vulgar, pada perkenalan pertama kali dengan cerpen-cerpen yang lahir dari kreatifitas seorang Leila membuat saya merasa sedikit tabu, entah memang seorang Leila yang begitu berani dalam menuangkan imajinasi, atau memang umur saya yang belum mencukupi atau belum berani mengkonsumsi cerpen-cerpen terkait dengan perasaan ‘biasa saja’.
            Terlepas dari semua itu, ketika saya telah habis pada akhir kalimat cerpen ini, saya membayangkan kisah yang sama yang diceritakan oleh grup band asal California yang beraliran rock alternative yang membawakannya lewat lagu dengan judul “Numb” (dalam bahasa Indonesia berarti mati rasa), adalah Linkin Park yang membawakan lagu ini pada tahun 2003 dalam albumnya yang bertajuk “Meteora”. Lagu Numb sendiri bercerita tentang seorang remaja yang tertekan dengan kehidupan sosialnya, dan dimata orang-orang terkasihnya, setiap yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan. Hingga pada suatu titik, ia merasa hampa dan mati rasa.
I'm tired of being what you want me to be
Feeling so faithless, lost under the surface
Don't know what you're expecting of me
Put under the pressure of walking in your shoes
Every step that I take is another mistake to you.

And every second I waste is more than I can take.
            Saya praktis berpikir bahwa lagu Numb cukup relevan dengan sosok Adila dalam cerpen karya Leila mengingat kedua tokoh dalam dua karya berbeda ini mengalami satu perasaan yang sama; tertekan. Dengan demikian, sebagai pembaca saya merasa kedua karya tersebut memiliki satu kesamaan tema meskipun keduanya hadir pada waktu yang berbeda dan rentang waktu yang cukup jauh.
            Sebenarnya, jika ingin melihat keterkaitan antara cerpen dan sebuah lagu, kita bisa menjadikan Rectoverso karya Dewi ‘Dee’ Lestari sebagai referensi yang cukup bagus, karena baik Dee sendiri memang sengaja merancang kisah-kisah dalam Rectoverso untuk memiliki satu lagu disetiap satu judul cerpen. Namun itu cukup saya jadikan sebagai referensi saja karena esai yang saya tulis kali ini memang bertujuan untuk mengulas cerpen “Adila” karya Leila S. Chudori, dan lagu dengan judul Numb milik Linkin Park.
            Pada akhirnya, baik cerpen “Adila” karya Leila dan Numb yang dibawakan oleh Linkin Park adalah dua karya yang bercerita tentang keterkekangan hidup seseorang, masalah sosial yang kerap kali harus dihadapi, dan setumpuk problem yang kerap dipendam sendiri. Meskipun memiliki tema yang sama, dua karya ini memiliki ending yang berbeda. “Adila” berakhir tragis dan hidupnya habis, sementara pada video klip Numb milik Linkin Park, sang remaja yang diceritakan memiliki masalah tersebut hanya kemudian meluapkan amarahnya tanpa arah, bisa dibilang, endingnya cukup mengambang atau tidak menjelaskan apapun tentang akhir sang remaja tersebut.
            *
**Notes: Esai ini selesai ditulis pada Kamis, 30 Maret 2017 pukul 13.45. Ini adalah esai seputar sastra yang pertama kali saya tulis dengan pendekatan pragmatik dan pengaitan dengan karya lain seperti musik Linkin Park yang telah diulas secara singkat dalam esai ini. Nah, esai ini membentuk saya dan saya ketagihan menulis esai jadinya, dan saya sangat butuh masukan, semoga berkenan untuk mengomentari setelah habis membaca esai ini. 
***Best Regards untuk dosen saya yang mengusung tugas ini sebagai syarat UAS mata kuliah Pengantar Kajian Sastra II.


[1] Summerhill adalah sebuah sekolah—dan menjadi sebuah buku dengan judul yang sama—yang didirikan oleh A.S. Neill (17 Oktober 1883- 23 September 1973), terkenal dengan kurikulumnya yang terlalu bebas dan radikal, akhirnya Summerhill mendapat banyak tentangan dari berbagai pihak hingga akhirnya harus ditutup.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW BUKU] Malam Terakhir, Kelam Cerah Hidup Wanita dalam Sepotong Cerita

Pada kesempatan sebelumnya, saya sudah pernah menulis esai yang mengulas salah satu cerpen dalam Malam Terakhir yang berjudul Adila dengan pendekatan pragmatik untuk salah satu tugas kuliah, nah sekarang, wa bil khusus saya akan membuat review tentang kumpulan cerpen garapan Leila S. Chudori yang berjudul "Malam Terakhir".
Well, saya pertama kali tahu dan membaca buku ini pada tahun yang sama, yep tahun 2017, kira-kira bulan Maret. Saat itu habis gajian dan seperti biasa, kebiasaan saya semenjak punya gaji *ekhem* yaitu #OneMonthOneBook, yap, satu bulan minimal saya membeli dan selesai membaca satu buku, hehe.. (Jangan lupa sedekahin sebagian gaji, Ta.. Jangan lupa tadarusan *ngomong ke diri sendiri, wkwk)
Saat memasuki Gramedia, yang ada di pikiran saya adalah mencari buku kumpulan puisi karya Aan Mansyur (lagi), karena saya ketagihan dengan cara beliau berpuisi. Tapi kok, setelah saya bolak-balik mengamati satu per satu buku yang ada di rak Sastra, saya nggak berhenti mer…

[REVIEW BUKU] Melihat Api Bekerja; Puisi Rasa Dongeng yang Lahir dari Seorang Aan

Waktu itu menjelang Ujian Nasional SMK, saya janji sama diri sendiri kalau saya nggak mau belajar apa-apa lagi terutama mata pelajaran pokok yang diujikan; Akuntansi. Saya juga berusaha keras melupakan segala apa yang tercetak dalam buku, bahasa, angka-angka, rumus, laba rugi, dan antek-anteknya. Menjelang UN otak saya harus kosong, agar pas hari H saya bebas isi kepala saya dengan pertanyaan dab kasus perusahaan manufaktur. Et, itu masa lalu, setahun kemarin, tapi memang masih berasa haha. Saya nggak bakal lupa masa-masa SMK saya, dulu saya dan teman usaha bareng jualan lumpia dan pastel dikelas, ngebangun usaha gerilya karena takut ketahuan pihak sekolah (karena waktu itu entah kenapa ada larangan khusus, padahal saya sekolah di bidang bisnis dan manajemen) tapi Alhamdulillah berhasil punya anak buah, notabene dari adik kelas yang juga butuh uang jajan tambahan. Dari situ, saya selalu punya simpenan uang, untuk kegiatan, bonus untuk beli buku yang saya mau. Keinget sebelum jualan k…