Kamis, 15 Juni 2017

[REVIEW BUKU] 1Q84 Jilid 1, Sebuah Prolog Panjang Menuju Dunia Pararel

Ka Ha
(Source: Pinterest)
Akhir-akhir ini saya sedang tertarik untuk membaca karya-karya dari para penulis Jepang, entah mengapa. Tetapi rasanya saya terpikir begitu setelah sekian lama saya banyak menonton anime keluaran studio Ghibli yang ceritanya lain dari pada yang lain. (Bisa search sendiri ya nanti, hehehe), kebetulan saya memang penikmat anime dan manga Jepang sejak duduk di bangku SMK, dua semester menjadi mahasiswi Sastra Indonesia saat ini, saya beralih menuju karya literasinya.

Yang pertama dan selalu saya dengar namanya adalah Haruki Murakami, seorang novelis senior yang telah banyak melahirkan karya fenomenal. Saya banyak mendengar namanya disebut-sebut, entah oleh komunitas kepenulisan yang saya ikuti, teman satu hobby nonton anime di grup sebelah, dari dosen saya yang sedang menjelaskan di depan kelas, dan masih banyak lagi. Singkat cerita, saya kepo sampai akhirnya saya searching tentang Haruki Murakami, dan pilihan pertama saya jatuh kepada karyanya yang berjudul 1Q84, (Well, lebih banyak penikmat karya Murakami yang merekomendasikan Norwegian Wood untuk pembaca pemula, tapi entahlah, saya langsung klop aja sama sinopsisnya 1Q84)

Sesuai dengan prasangka saya terhadap 1Q84, saya jatuh cinta.

Ada dua kehidupan yang tersaji di dalamnya, yaitu kehidupan seorang perempuan bernama Aomame, dan seorang pria bernama Tengo, adapun Fuka-eri, adalah tokoh utama pendamping yang ketika saya membaca dialog-dialognya dengan Tengo saya suka kadang nyengir dan geregetan sendiri, kenapa? Karena tokoh Fuka-eri disini digambarkan sebagai seorang remaja tujuh belas tahun yang tidak memiliki aksen saat berbicara, dan ekspresi saat berinteraksi. Bisa bayangin? Hahaha..

1Q84 ini berawal dari adegan dimana Aomame yang menumpang sebuah taxi dan terjebak kemacetan parah, sementara ia harus menyelesaikan tugas penting tanpa bisa bernegosiasi dengan waktu. Di awal cerita saja, pembaca sudah dapat menangkap ciri khas seorang Murakami sebagai pengarang. Murakami dengan lihainya menggambarkan segala sesuatu dengan detail, dan tersampaikan. Pokoknya, kamu harus sabar deh untuk membaca karya yang satu ini, karena bukunya yang tebal memang dipenuhi dengan penggambaran detail, bukan dengan adegan yang bang! langsung menemukan titik temu. Penuh ketersiratan yang memaksa kita sebagai pembaca membayangkan situasi demi situasi sampai kita dapat merasa bahwa kita selalu ada di samping tokoh-tokoh dalam novel itu. Hidup bersamanya.

Dalam 1Q84, kehidupan berjalan seperti biasa sampai Aomame merasa bahwa ada beberapa hal yang luput dari pengetahuannya, sampai di suatu hari ia tersadarkan bahwa Aomame bukan lagi berada di dunia yang bertahunkan 1984, setiap malam, terdapat dua bulan di langit. Sesuatu permulaan terjadi, hidupnya berkelindan dengan kehidupan Tengo, seorang lelaki yang sebisa mungkin menghindarkan dirinya sendiri dari segala bentuk tanggung jawab yang dapat mengusik kedamaian hidupnya, semuanya berjalan sesuai keinginannya sampai Tengo bertemu dengan naskah Kepompong Udara milik gadis cantik berumur 17 tahun bernama Fuka-eri. Nah, sampai disini sudah mulai berasa ketegangan yang dibawa oleh 1Q84, saya nggak mau menjabarkannya lebih detail karena khawatir dianggap spoiler, ekhekehekhe..

1Q84 sendiri merupakan pelesetan judul dari novel milik George Orwell yang berjudul 1984. Ungkapan 1Q84 adalah hipotesis Aomame yang menganggap dirinya tengah terperangkap dalam dunia yang bukan dunia seharusnya. Oiya, ketika kamu membaca 1Q84, bukan hanya kedetailan penjelasan yang akan kamu dapat, tapi beberapa hal yang tidak umum seperti selera musik, nama komposer, sampai selera buku. Dalam 1Q84, saya menemukan seorang Janacek dan simfoninya, juga tentang orang Giliyak dan Ainu, bawang putih Manchuria, dan masih banyak lagi. Sepertinya Murakami sendiri merupakan seorang penikmat musik dan pembaca sejarah. Karya-karya tidak luput dari ulasan sejarah yang asing, belum pernah terdengar di telinga saya.

Dan, WARNING!!!
Jujur, sepertinya 1Q84 tidak begitu recomended untuk usia tujuhbelasan, karena menurut saya, rating untuk novel ini semestinya dibaca oleh mereka yang telah berumur 21 keatas (ya meskipun jujur aja umur saya baru 19 tahun 1 bulan dan ketika membaca ini lumayan sesak nafas sih hahaha..). Memang sih, untuk penikmat Sastra yang sudah terbiasa dengan literasi-literasi yang bernafaskan erotis, pasti sudah biasa, tetapi bagaimana dengan yang belum atau masih pemula? Wah, kudu bae-bae cyiin bacanya, jujur saya beberapa kali tutup buka buku ketika membaca 1Q84, antara mikir, "Ih, apaansih?" dan, "Kok, nggak banget ya deskripsinya?". Tapi, yaaaa... Saya baca juga lah, adegan-adegan vulgar dan erotis disini juga lumayan banyak, terutama di bagian Aomame. Harus sembari istighfar, mau nggak ngebayangin tapi susah, duh! (Maafkan Lyta ya Allah, maafkan...... dan lebih baik nggak baca pas kamu lagi ngejalanin puasa ya, haha)

Pada akhirnya, 1Q84 yang tebalnya lumayan ini tidak habis dalam satu buku. Konon katanya (yaelah, konon..), enggak ini serius, tapi 1Q84 ini sudah sampai pada jilid 3! Man, jilid 3!!! Dan saya aja tertatih-tatih membaca jilid 1-nya. Jilid satu sepertinya dibuat serupa gerbang, membuat pembaca dekat dan akrab dulu dengan para tokohnya, bukan hanya karakter, tetapi juga dengan kehidupan dan rahasia paling kelam sekalipun yang mereka simpan. Dunia pararel dan surealis justru lebih terasa saat memasuki lembar-lembar akhir, dan ketika kita sudah siap dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Kepompong Udara dan Fuka-eri, cerita berlanjut ke 1Q84 Jilid 2. Ghoshhhh.. Hahaha!

Target setelah lebaran ini saya akan baca yang jilid 2-nya, dan semoga aja rejeki saya lancar biar sekalian borong aja ya yang jilid 3-nya, Aamiin. Tetap mengutip rekomendasi dari para penikmat karya Murakami yang telah lama, kalau mau coba baca karya beliau, coba baca Norwegian Wood terlebih dahulu. Alasannya? Karena Norwegian Wood masih berpijakan pada dunia nyata, ndak seperti novel lainnya kebanyakan. Tetapi 1Q84 juga tidak ada salahnya kok.

Well, saya rasa ulasan ini cukup. Semoga cuap-cuap yang tidak seberapa ini dapat membangkitkan minat baca kamu ya, selamat membaca buku! Jangan lupa berkarya!

Xoxo,
Kaha


*Tebet, 15 Juni 2017, 12.47

Ka Ha / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

2 komentar:

  1. Selalu pengin baca karyanya Murakami. Belum kesampean nie... Baca ulasan ini malah makin penasaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca lah mas, sayangnya di gramed udh gak ada mas, aku aja beli online ini 😁

      Hapus

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Templatelib